Tampilkan postingan dengan label ukhuwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ukhuwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2008

Hadiah Milad dari saudariku..

Dimanakah Ukhuwah Itu

Saudariku, Maafkan aku telah mengurangi jatah ukhuwah padamu.

Kuingat saat pertama kali berjumpa denganmu dalam lingkaran kecil itu. Saat SMART di puncak, aku tertegun dengan keberadaanmu. Ternyata Allah berkehendak dengan skenario indahnya. Kita sekelas di tingkat 2 STAN. Bisa duduk sebangku, nomor pun berurutan.

Saudariku, afwan telah memberi warna lain dalam dirimu. Masih teringat saat kita bolos bareng mata kuliah Keuangan Negara-nya Pak Sampurna, hanya untuk ikut aksi korupsi di depan BPK dan KPK. Kurasa bukan sekedar “hanya membolos”, ada cita lain disana yang jauh lebih besar dan ternyata Pak Sam menilai berbeda, kita nggak dianggap membolos.

Atau kenangan lain saat kita mengerjakan kepanitiaan bersama, menginap bersama, belajar bersama, makan bersama, istirahat bersama. Langkah kaki kita beriringan memperbaiki diri. Dalam tiap kajian, kita bersama mendiskusikan permasalahan umat yang tak kunjung usai.

Pernah suatu ketika ukhuwah kita hampir retak, kau dengan ikhlasnya menulis surat berlembar-lembar untuk memulihkan egoku. Akan kukutip tulisanmu waktu itu, saudariku…

 

Mari kita ingat sejenak. Ketika, -----kadang, kita bersitegang dalam beberapa forum diskusi. Ketika ana tak acuh menanggapi komentar anti. Ketika keluar ucapan kasar dengan serapah. Ketika ada ganjalan yg menghunjam qalbu. Ketika tiris dan hambar senyum terkembang. Ketika tidak menganggap keberadaan anti, terlebih lagi ketika tak menganggap keterlibatan anti dalam dakwah ini. Ketika secara sadar nilai maknawi ternodai.  Mari, ingatlah kembali semuanya… Ketika perasaan lebih benar menguasai diri. Ketika memandang anti jauh lebih rendah dari kaum kuffar. Ketika merasa paling beramal. Ketika interaksi kita sebatas basa-basi.

Maafkan atas kesadaran yg terlambat. Menyadari hak anti yg terampas. Maafkan kekerasan hati, kelemahan jiwa, kurangnya pengetahuan, dan minimnya lapang dada. Maafkan ambisi yg besar dan perasaan mau menang sendiri. Maafkan kelalaian dan empati yg tipis untuk mengerti dan mengutamakan anti.

Hari ini, ana teringatkan akan pemahaman lama yg baru tersegarkan. Sesungguhnya sifat persaudaraan diantara kita, selalu meletakkan kehormatan dan izzah seorang muslim sebagai harga diri yg harus dipenuhi hak-haknya oleh sesama.

Maafkan ana yg telah menggugurkan kehormatan dan meluluhkan kemuliaan anti.  Semoga rasa maaf  dan keikhlasan memaafkan anti bisa mengganti murka Allah, menjadi air yg mampu memadamkan gejolak api neraka, dan pelapang atas sempitnya hati yang selalu merasa bersalah.

Semoga rasa maaf anti menjadi penebus, prasyarat untuk tetap menjadi pilihan Allah dalam jalan dakwah. Semoga dengan itu kemuliaan dan keutamaan senantiasa dianugerahkan Allah untuk anti.

Sekali lagi, maafkan ana dalam interaksi ukhuwah kita selama ini.

“Sesungguhnya org2 mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Alah supaya kamu mendapat rahmat..” (Q.S  49:10)

Surat yang cukup dalam maknanya, mampu meluluhkan egoku. Aku sadar akan kesalahanku. Terimakasih telah mengingatkanku saat itu. Kuharap terus bisa mendapat taujih ringan darimu, renyah tapi sarat makna.

Saudariku, kini bertambah satu usiamu, berkurang pula jatah hidup di dunia. Semoga hari ini menjadi titik balik semangat untuk terus memperbaiki diri dan istiqomah di jalan ini.

 

Untuk saudariku di pojok Pengembangan Kantor Pusat, “Ana uhibbuki fillah..”

 

Taqqiers… miz u all^^

ditulis oleh nailalhusna pada 12:30 |
 
Comments:
 
better than BADJINGAN says :
jadi yang iukutan demo di depan gedung BPK dan KPK itu ...
hihihihi..
salut... salut...
Pak Sampoerna aja takjub,
apalagi saya...
Posted by BADJINGAN at 01:17, 15/9/2008 |
 
ummi-nya ravi ya???
selalu inget ukhti berdua yang selalu duduk bersisian, setiap cerita dibagi berdua seolah tak memberikan ruang bagi kawan2 yang lain. kemana2 selalu berdua.. hmm..
semoga sisa umurnya semakin berkah dan barokah, semoga Allah mengeratkan ukhuwah ukhti berdua..
Posted by eX-2H juga.. at 01:58, 15/9/2008 | 
 
"aksi korupsi" di depan BPK dan KPK ?
ga ditangkap KPK tuh? hehe...
mungkin mangksudnya "anti korupsi"
Posted by iwawaz at 02:40, 15/9/2008 |
 
Met milad Sari
Assalamu'alaikum..
Ukhtiku fiLLah Malatika Septiasari, Semoga Allah menjagamu, ,menguatkanmu, menghiburmu, mencintaimu selalu.
Tdk terasa waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan jejak kenangan yang begitu dalam terpahat di relung jiwa2 yang rindu akan ukhuwah indah bersamamu..
Maafkan ana, terkadang mengingkar janji yang qt ikrarkan bersama, untuk selalu menyambung ukhuwah ini.
Ukhtiku, Ana rindu kenangan2 indah itu, ana rindu taushiyah2 kalian..Kadang terbersit, mungkinkah qt bertemu, berbagi cerita bersama sambil jalan2 di kampus tercinta menapaki kenangan2 yang takkan pernah luntur itu..
Namun jikalau itupun tak mungkin, semoga Allah pertemukan kita semua di surgaNya.. Ana uhibbukum fillah.
Posted by umu azka at 02:54, 15/9/2008 |
 
hiks..hiks..
@ nailal husna
Jazakillah ukhti buat tulisannya..
duh, dah berkaca2 nie mata..
Kangennya dengan masa2 bersama ketika di kampus dulu..
Kapan ya bisa ketemu lagi?
Kapanpun, semoga Allah selalu menjaga ukhti dimanapun berada..

@ Ummu azka
Kangennya..
No hpnya berapa? mo telpon2an kok susah..hiks..

Syukron buat nienna4201, mb rum dan semuanya atas kiriman doanya..buat ich yg udah nelpon..hiks..
Kangen kalian semua..
Syukron atas ukhuwah yang indah ini..
Semoga kita semua selalu akan dipersaudarakan di jalan yang indah ini hingga kelak di jannah-Nya nanti..

Ana uhibbukum fillah..


Posted by bunda_rafi at 08:28, 16/9/2008 |
 
aahh
indahnya......
Posted by hepytika at 07:20, 17/9/2008 |
 
afwan ya telat...............
Barakallahufiik ya ukh ....
afwan telat. afwan belum bisa menjadi saudari yang baik y ukh.jazakillah buat ukhti inge.kenangan masa2 manis yang dulu terekam kini hadir kembali menyisakan ribuan bait doa yang terucap smoga Allah mempertemukan kembali....dengan kondisi keimanan yang semakin kokoh, hamasah yang semakin mantap, dan mahabbah yang semakin menjulang.
buat bunda rafi.....
semoga Rabbul Izzati selalu memberikan keberkahan dan keridhaanNya buat anti sekeluarga.
kapanpun, dimanapun, Allahumma Amiin
btw, nonya mba Rum brapa y?ko ga jadi ngrim?
thanx 4 everything ya...
ana uhibbukum fillah
Posted by naura_bungaku at 02:17, 17/9/2008 |

Senin, 03 November 2008

Tetangga oh Tetangga..

Tak terasa sudah empat bulan kami tinggal di kontrakan baru. Tinggal di lingkungan perkampungan yang padat penduduk pastinya memiliki ceritanya sendiri. Kami tentunya harus pandai2 menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ngomong2, sudah berapa banyak ya tetangga yang kami kenal di sini? Mengingat sebelumnya kami tinggal di rumah kontrakan yang tidak begitu jauh dari rumah orangtuaku, jadi tetangganya memang sudah cukup kukenal. Beda dengan rumah kontrakan yang sekarang. Coba di-list satu satu ah tetangga kami..

1.       Tetangga depan rumah, Pak Umar, beliau dulu mantan ketua warga di lingkungan kami. Beliau tinggal dengan istri dan anak2nya yang sudah menikah. Nama istrinya siapa yah? Waduh..

2.       Samping rumah kiri kanan tuh rumah petak berderet2. Hanya beberapa saja yang kami kenal sepertinya. Ada nenek, mbak lina&suami serta anak perempuannya yg biasa kami panggil kakak. Ada si kecil Pelu yang suka memanggil2 Rafi.

3.       Ada Pak Nanang, rumahnya sebelah Pak Umar. Cukup kenal baik dengan anak2nya, temen ngaji waktu kecil dulu. Ada Irma, Nia dan Rini.

4.       Warung Uda, langganan beli air mineral galon dan LPG. Anaknya tiga dan salah satu anaknya dulu di STAN, sekarang di DJBC.

5.       Mbak Wiwik, penjual segala jenis gorengan.

6.       Mbak Sri dan Pak Haji Suradi beserta ketiga anaknya Nurul, Rizki dan Ajeng. Pemilik rumah kontrakan yang dulu. Anak2nya dulu sempat les privat sama aku.he..

7.       Counter pulsa depan rumah, siapa ya namanya?Duh..duh..

8.       Pak Slamet, tukang tempe.

9.       Mpok Ani, yang dulu bantuin masak waktu aqiqahnya Rafi.

10.   Siapa lagi yah??

Waduh, ternyata kami belum cukup mengenal tetangga rumah kami.. Hiks2.. Seharusnya kesibukan kerja setiap hari dan kesibukan lainnya di hari libur tidak menjadi alasan pembenaran tidak mengenal tetangga dengan baik. Mari bertetangga, kawan..

''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.'' (HR Tirmidzi).

Selasa, 28 Oktober 2008

Terimakasih tetap menjadi sahabatku..

“Tetaplah menjadi dirimu sobat”. Baru saja kuletakkan gagang telepon setelah menghubungi seorang sahabat untuk sesuatu hal. Entah, rasanya Allah menuntun tangan ini untuk menekan tombol-tombol nomornya. Dan puji syukur, hari ini aku mendapatkan satu nasihat yang sangat berharga dalam hidupku.

Sebagai manusia, terkadang kita tidak sekuat yang kita banggakan, tak pernah sehebat prasangka sendiri, tak pernah setangguh bayang-bayang idealisme. Karena justru pada saat kebanggaan, prasangka diri dan bayangan kehebatan itu menjadi tameng dalam menjalani kehidupan, sesungguhnya, semua itu adalah tameng yang semu, yang tak pernah sanggup menahan sebutir debu pun untuk mengelabui mata ini, yang tak pernah bisa mencegah sehelai duri halus menembus kulit kaki kita yang terus melangkah. Adalah manusia yang sombong, yang tak pernah mengharapkan seorang sahabat sejati mengiringi setiap langkahnya, meski hanya dalam do’a.

Kita bukan malaikat yang tak pernah bisa tersentuh kemaksiatan, yang tak mungkin berbuat dosa karena ia memang terbuat dari dzat yang jauh dari kegelapan. Sedangkan kemaksiatan dan dosa, lebih banyak dari sudut yang gelap yang seringkali tak tertangkap mata kehadirannya, setidaknya oleh mata hati yang lengah. Kita bukan Rasul yang Allah beserta para malaikat setia mendampingi dan menjaga dari jalan yang salah. Dan yang pasti, kita bukanlah syaitan yang dengan izin Allah, ia senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang mengabadikannya di neraka. Namun demikian, meski sebagai manusia, kita juga bisa bercahaya dan saling menerangi sesama, jika kita saling menasihati, saling menegur jika mendapati yang salah. Meski hanya seorang manusia biasa, kita juga punya Allah dan para malaikat yang senantiasa memperhatikan dan melindungi kita, jika kita menginginkannya.

Tangan-tangan Allah, sentuhan para malaikat, bisa jadi tak secara langsung kita rasakan seperti saat Dia membantu para Rasul-Nya mengemban missi dakwah. Dalam perjalanan mengarungi hidup, bukan tak mungkin salah, khilaf menyebabkan diri ini tergelincir bahkan terjerumus pada lubang yang dalam. Yang bahkan teramat sulit untuk kembali. Berjalan sendiri, bukan tak boleh, namun saat semakin derasnya hujan dan angin yang bertiup, bukankah kehadiran seorang sahabat dapat lebih membantu memegangi payung yang nyaris terbawa angin? Bertahan dalam badai topan maupun banjir bersama seorang teman, pasti lebih memberikan kekuatan dan kesabaran dari kesendirian. Bahkan sekedar untuk mencabut uban di kepala, kita membutuhkan bantuan orang lain.

Lalu, masih sombongkah kita untuk bersikeras berjalan sendiri tanpa menghiraukan seruan-seruan dari orang lain? Masih egoiskah diri ini untuk yakin tetap selamat tanpa mempedulikan nasihat-nasihat dari siapapun? Percayalah, dari manapun datangnya, jika ia membawa nasihat, teguran yang terkadang teramat pahit terasa, bahkan tamparan yang memilukan, namun jika untuk keselamatan kita, merekalah sahabat sebenarnya. Bersyukurlah Allah masih berkenan menghadirkan mereka dalam hidup ini. Sesungguhnya, tidak lain mereka adalah tangan-tangan Allah yang menyentuh dan melindungi kita. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab

(Bayu Gautama)

special 4 taqi'erz : nailal_husna, aliya , bunda naura, ummu azka, dan mrkd

I miss u all, ukh..